Memiliki rekening bank, dompet digital, atau akses ke produk keuangan belum otomatis membuat seseorang mampu mengambil keputusan finansial yang tepat. Akses adalah langkah penting, tetapi memahami cara kerja produk, biaya, risiko, dan konsekuensinya sama pentingnya.
Gambaran ini terlihat dalam Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026. Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan indeks literasi keuangan Indonesia sebesar 69,57 persen dan indeks inklusi keuangan 93,61 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan hasil 2025. Informasi ini diumumkan pada Agustus 2026 dan dapat dibaca di siaran pers resmi OJK, LPS, dan BPS.
Secara sederhana, literasi berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman tentang keuangan, sedangkan inklusi berkaitan dengan akses atau penggunaan layanan keuangan formal. Kedua hal ini saling melengkapi, tetapi tidak sama. Seseorang bisa memiliki banyak akses ke produk keuangan tanpa sepenuhnya memahami cara memilihnya.
Mengapa selisih akses dan pemahaman penting?
Akses yang semakin luas memberi masyarakat lebih banyak pilihan untuk menyimpan uang, membayar kebutuhan, meminjam, atau berinvestasi. Namun pilihan yang banyak juga menuntut kemampuan membandingkan biaya dan risiko. Produk yang mudah dibuka belum tentu sesuai dengan kebutuhan setiap orang.
Contohnya, seseorang mungkin sudah memiliki rekening dan kartu kredit, tetapi belum memahami biaya keterlambatan atau bunga jika tagihan tidak dibayar penuh. Orang lain mungkin rutin memakai layanan pembayaran digital, tetapi belum memiliki anggaran bulanan sehingga sulit mengetahui ke mana uangnya pergi. Ada pula pemula yang membeli produk investasi karena mengikuti tren tanpa memeriksa risiko dan jangka waktu.
Karena itu, peningkatan literasi bukan hanya tentang mengetahui istilah finansial. Ukurannya juga terlihat dari kebiasaan sehari-hari: membaca syarat, membandingkan pilihan, membuat anggaran, menyiapkan dana darurat, dan menghindari keputusan yang tidak dipahami.
1. Pahami biaya total, bukan hanya angka promosi
Saat memilih rekening, pinjaman, kartu kredit, atau layanan digital, periksa biaya administrasi, bunga, denda, biaya transaksi, dan syarat lainnya. Penawaran dengan biaya awal rendah belum tentu paling murah jika ada biaya berulang atau ketentuan tertentu.
Biasakan membaca ringkasan informasi produk dan bertanya jika ada istilah yang tidak dipahami. Jangan mengambil keputusan hanya karena proses pendaftarannya cepat atau karena ada promosi yang segera berakhir.
2. Buat anggaran yang realistis
Anggaran membantu menghubungkan pendapatan dengan kebutuhan dan tujuan. Mulailah dengan mencatat penghasilan bersih serta pengeluaran selama satu bulan. Pisahkan kebutuhan pokok, kewajiban rutin, keinginan, tabungan, dan pembayaran utang.
Rumus anggaran populer dapat dijadikan titik awal, tetapi bukan aturan mutlak. Kondisi pekerja yang tinggal di kota besar, orang yang menanggung keluarga, dan pekerja lepas dengan pendapatan tidak tetap tentu berbeda. Yang penting adalah mengetahui pengeluaran wajib dan menyisihkan dana untuk tujuan finansial sesuai kemampuan.
3. Bangun dana darurat sebelum mengejar keuntungan tinggi
Dana darurat membantu menghadapi kejadian tak terencana seperti kehilangan pekerjaan, perbaikan kendaraan, atau kebutuhan kesehatan. Besarnya target bergantung pada pengeluaran pokok, stabilitas pendapatan, dan jumlah orang yang ditanggung.
Mulai dengan target kecil yang bisa dicapai, lalu tingkatkan secara bertahap. Simpan dana tersebut pada tempat yang relatif mudah diakses dan pahami syarat serta risiko produk penyimpanannya. Jangan mencampurnya dengan dana yang memang disiapkan untuk belanja rutin.
4. Kenali risiko sebelum berutang atau berinvestasi
Sebelum mengambil pinjaman, hitung kemampuan membayar cicilan setelah kebutuhan pokok terpenuhi. Jangan hanya melihat besarnya cicilan bulanan; periksa pula total pembayaran, tenor, bunga, denda, dan dampak jika pendapatan turun.
Untuk investasi, pahami bahwa potensi hasil biasanya datang bersama risiko. Produk dengan fluktuasi tinggi mungkin tidak cocok untuk uang yang akan dipakai dalam waktu dekat. Hindari keputusan berdasarkan janji keuntungan pasti, tekanan untuk segera transfer, atau rekomendasi yang tidak dapat diverifikasi.
5. Periksa legalitas dan waspadai penipuan
Jangan menganggap suatu layanan aman hanya karena memiliki situs yang terlihat profesional, banyak pengikut, atau testimoni positif. Periksa status penyelenggara melalui kanal resmi regulator yang relevan. Jangan pernah membagikan PIN, kata sandi, kode OTP, atau akses perangkat kepada orang yang mengaku sebagai petugas.
Jika menerima tawaran investasi atau pinjaman yang mencurigakan, berhenti sejenak dan verifikasi melalui sumber resmi. Tekanan agar segera membayar biaya awal, janji hasil yang tidak masuk akal, dan permintaan merahasiakan transaksi merupakan alasan untuk ekstra waspada.
Jadikan pengetahuan sebagai kebiasaan
Angka literasi dan inklusi yang meningkat merupakan perkembangan positif, tetapi manfaatnya terasa ketika pengetahuan diterapkan. Luangkan waktu singkat setiap pekan untuk mengecek saldo, pengeluaran, tagihan, dan kemajuan tujuan keuangan. Sebelum menggunakan produk baru, pastikan memahami biaya, manfaat, dan risikonya.
Keputusan keuangan yang sehat tidak harus rumit atau langsung sempurna. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten—mencatat, membandingkan, bertanya, dan memverifikasi—dapat membantu masyarakat menggunakan akses keuangan secara lebih bijak.
Catatan: Artikel ini bersifat edukasi umum, bukan rekomendasi produk keuangan tertentu.